0

Candi-candi Tebing di Bali

"Paman Jero, saya menemukan batu berukir!" ujar salah seorang warga desa kepada pemangku pura di banjarnya. Tak lama kemudian, warga banjar berbondong-bondong menuju ke lokasi batu berukir yang dimaksud. Batu berukir itu tergeletak di dasar jurang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan: menyisakan sedikit relief berbentuk candi.

Beberapa hari kemudian, diadakanlah upacara sakral untuk memindahkan pecahan batu berukir tersebut ke lokasi yang lebih bagus serta tidak jauh dari tempat ditemukannya. Di tempatnya yang baru, batu berukir tersebut kemudian diberi pondasi yang lebih kuat serta dibuatkan pagar dan tempat pemujaan.

"Dari mana ya batu itu?" tanya salah seorang warga kepada penemunya.

"Entahlah, saya menemukannya sudah dalam kondisi itu di dasar jurang," jawab sang Penemu.

Aroma wangi bunga berbaur dengan dupa bergaung di sekitar batu berukir itu. Asapnya naik ke langit dan disambut oleh desiran angin sore.

Candi-candi Tebing di Bali

Temuan batu berukir tersebut nampaknya merupakan patahan dari tebing-tebing yang dengan sengaja diukir berbentuk candi. Terpisahnya batu tersebut dari tebing asalnya tentu bukanlah tanpa sebab. Ada yang menyebutkan karena terkena longsoran, ada pula yang menyebutkan karena dampak ledakan bom ketika terjadi perang.

Tidak hanya potongan tebing itu saja, Bali juga menyimpan banyak situs-situs pemujaan klasik yang dipahatkan langsung dari tebing. Sebut saja Candi Gunung Kawi yang memiliki sepuluh ukiran candi, Goa Gajah yang memiliki hiasan barong di mulut goanya, serta reruntuhan Candi Jehem yang saya kisahkan di atas.

Bentuk pemujaan yang terukir langsung di tebing tentu menimbulkan pertanyaan: mengapa orang-orang Bali kuno tidak membuat candi seperti orang-orang Hindu di Jawa?

Tidak Mengenal Kultus Raja

Salah satu pendapat mengatakan bahwa orang-orang Bali kuno tidak mengenal kultus Raja. Kebanyakan candi-candi di Jawa dibuat untuk mendarmakan raja yang telah wafat. Raja-raja tersebut biasa digambarkan sebagai titisan dewa yang arcanya kemudian berada di dalam atau sekitar candi tersebut. Tidak demikian dengan Bali, kebanyakan peninggalannya berbentuk pura atau puri. Selain itu, arca-arca yang dibangun bukanlah menjadi ikon atau perwakilan sebuah karakter tertentu melainkan hanya sebagai hiasan.

Pelarian Majapahit?

Ada pula yang berpendapat bahwa pembuatan candi di tebing-tebing disebabkan karena mereka merupakan pelarian dari Jawa, yaitu orang-orang yang bertahan menjelang akhir masa kejayaan Majapahit. Selain menjadi tempat beribadah, berada di balik tebing bisa menjadi lokasi bertahan yang cukup ideal pada masa itu. Akan tetapi dugaan ini juga tidak serta-merta merupakan hubungan sebab-akibat secara langsung.

Faktor Alam dan Masyarakatnya

Terlepas dari dugaan-dugaan tersebut, mungkin alasan yang menurut saya masuk akal adalah kondisi alam. Kondisi pulau Bali mungkin tidak memberikan banyak pilihan untuk membangun candi sebanyak dan sebesar di Jawa. Meskipun demikian, seni arsitektur yang dilengkapi dengan simbol dan filosofi tidak pernah lepas dari Bali hingga saat ini. Terbukti bahwa jati diri Pulau Bali sebagai Pulau Dewata tidak pernah lekang oleh waktu hingga sekarang.

Melanjutkan catatan perjalanan "Sembilan Hari di Pulau Dewata" tentang Buleleng dan Kiasan Lima Abad, tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang situs-situs berupa candi yang dipahatkan langsung dengan tebing. Mana sajakah situs-situs tersebut?


Candi Gunung Kawi

Candi tebing pertama disebut dengan Candi Gunung Kawi, yang terletak di Banjar Penaka, Tampak Siring. Candi Gunung Kawi terdiri dari sepuluh buah ukiran candi yang dipahatkan di tebing. Di sekitar tebing tersebut didirikan pura yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat sekitar.

Untuk mencapai lokasi candi, saya harus berjalan sejauh kurang lebih satu kilometer, melewati toko-toko suvenir serta areal sawah yang eksotis. Candi Gunung Kawi dipahat pada dua areal tebing, yang dipisahkan oleh aliran Sungai Tukad Pakerisan. Di sisi barat sungai, terdapat lima ukiran candi yang terbagi menjadi dua kompleks: empat candi di sebelah utara dan satu di sebelah selatan. Sedangkan di sisi timur sungai, terdapat lima ukiran candi yang merupakan pusat dari keseluruhan kompleks Candi Gunung Kawi.

Lima ukiran candi di sisi timur sungai.
Empat ukiran candi di sisi barat sungai.

Candi ini konon didirikan pada pertengahan abad ke-11 Masehi, yaitu pada masa Dinasti Udayana (Warmadewa). Pembangunan candi ini dimulai pada masa pemerintahan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944 - 948 Saka / 1025 - 1049 Masehi) dan berakhir pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu (971 - 999 Saka / 1049 - 1080 Masehi).

Pura baru yang dibangun di kompleks Candi Gunung Kawi.

Sedangkan sumber sejarah yang menceritakan tentang candi ini diperkirakan tertulis pada Prasasti Tengkulak, yang menceritakan bahwa terdapat pertapaan bernama Amarawati di tepi Sungai Pakerisan. Amarawati inilah yang diduga merupakan Candi Gunung Kawi.

Pada bagian atas gerbang candi yang terdiri dari lima buah bangunan, terdapat tulisan dengan aksara Kediri yang berbunyi "Haji Lumah ing Jalu." Tulisan tersebut bermakna bahwa sang Raja (Udayana) wafat di jalu (Sungai Tukad Pakerisan). Hal ini memperkuat bahwa candi ini didirikan sebagai tempat pemujaan kepada sang Raja. Selanjutnya, kompleks yang terdiri dari empat candi diduga merupakan persembahan bagi keempat selir Raja, sedangkan satu yang lain dipersembahkan untuk orang terhormat yang setara dengan menteri atau penasihat kerajaan.

Di beberapa titik, terdapat ruang-ruang kosong yang merupakan tempat bermeditasi bagi para biksu Buddha. Kompleks candi Hindu yang berdekatan dengan Buddha menunjukkan kedekatan hubungan antara umat beragama Hindu dan Buddha pada masa lampau.

Salah satu relung pertapaan.
Terasering di sekitar kompleks candi.

Candi Gunung Kawi

Lokasi administratif: Banjar Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali.

Koordinat: -8.4213272, 115.3100209.

Tarif masuk: Rp 15.000 (2016)


Goa Gajah

Situs kedua yang cukup tenar adalah Goa Gajah, merupakan gua dengan pahatan raksasa di bagian pintunya. Goa Gajah ini kemudian diperluas dan dibangun menjadi pura yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat peribadatan oleh warga di sekitarnya.

Secara umum, Goa Gajah terdiri dari dua bagian besar, yaitu bagian yang menjadi tempat pemujaan Siwa dan bagian yang menjadi tempat bertapa umat Buddha. Dari pintu masuk kompleks wisata Goa Gajah, pengunjung harus menuruni area wisata hingga menemukan pendopo atau bale kulkul.

Dari bale kulkul, pengunjung dapat secara langsung melihat Goa Gajah dan kolam pancuran yang merupakan bagian dari pemujaan Siwa. Struktur di dalam gua berbentuk huruf T. Dinding bagian dalam gua memiliki beberapa relung, serta arca Ganesha dan tiga buah lingga.

Goa Gajah.

Sedangkan kolam pancuran menyimpan enam buah arca Widyadara-Widyadari. Diduga bahwa sebenarnya terdapat tujuh buah arca yang memancurkan air saptanadi, melambangkan sungai-sungai suci di India: Gangga, Sindhu, Saraswati, Yamuna, Godawari, Serayu, dan Narmada). Ujung dari area pemujaan Siwa adalah pura yang terletak tidak jauh dari pintu goa.

Kolam pancuran atau petirtaan saptanadi.

Kembali ke bale kulkul, pengunjung dapat menuruni tangga ke lokasi yang lebih rendah di sebelah kiri bale kulkul. Di sanalah terdapat lokasi pertapaan umat Buddha. Seharusnya, ada relief berbentuk stupa terukir di salah satu dinding bukit di area tersebut. Akan tetapi kini tampak hancur dan menyisakan sedikit bagian yang dapat disaksikan di bawah.

Reruntuhan stupa.

Sepintas memang tidak tampak ada arca berbentuk gajah (yang bukan Ganesha), namun mengapa tempat ini dinamakan Goa Gajah? Konon istilah Goa Gajah diturunkan dari Lwa Gajah, yaitu sungai yang mengalir di sekitar pertapaan Buddha yang disebut-sebut dalam Kitab Negarakertagama. Sungai ini juga disinggung dalam sebuah prasasti bertarikh 944 Saka, yang mengairi sawah-sawah di sekitarnya; dan juga prasasti lain bertarikh 1103 Saka yang menyebutkan bahwa terdapat tempat pemujaan Siwa pada masa pemerintahan Raja Jayapangus. Berdasarkan sumber-sumber tersebut, akhirnya para peneliti dapat menyimpulkan asal muasal Goa Gajah.

Arca Ganeça di dalam Goa Gajah.

Selain prasasti dan tulisan yang secara literal menyebutkan "Gajah", terdapat pula sumber lain yang menggunakan istilah "Kunjara" atau gajah dalam bahasa Sanskrit. Pada Prasasti Dawan (975 Saka) dan Prasasti Pandak Bandung (993 Saka), disebutkan bahwa terdapat sebuah tempat pertapaan yang bernama Antakunjarapada. "Anta" berarti perbatasan, "kunjara" berarti gajah, dan "pada" berarti tempat. Diduga bahwa pertapaan tersebut berada di lokasi perbatasan Gajah.

Goa Gajah

Lokasi administratif: Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.

Koordinat: -8.5128972, 115.3005152.

Tarif masuk: Rp 15.000 (2016)


Yeh Pulu

Yeh Pulu merupakan situs bersejarah berupa relief yang diukir di sepanjang dinding batu sepanjang 25 meter dan dengan tinggi sekitar 2 meter. Relief tersebut menggambarkan kisah kehidupan masyarakat Bali kuno atau tepatnya yang termasuk dalam Kerajaan Bedahulu (Bedulu). Nama Yeh Pulu berasal dari dua kata Yeh dan Pulu. Yeh berarti air, sedangkan Pulu berarti gentong untuk menyimpan beras.

Relief Yeh Pulu 1.
Relief Yeh Pulu 2.

Tidak banyak informasi yang bisa saya peroleh dari tempat ini. Salah satu hal yang menarik adalah, konon tempat ini digunakan Raja Bedahulu untuk bertapa sebelum kalah berperang melawan Majapahit pada tahun 1343 Masehi.

Relung dan Pura Yeh Pulu.

Yeh Pulu

Lokasi administratif: Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali.

Koordinat: -8.5128972, 115.3005152.

Tarif masuk: Rp 15.000 (2016)


Candi Tegallinggah

Desiran sungai menyambut kedatangan kami ketika berkunjung ke candi tebing ini. Menuruni banyak anak tangga tidak membuat kami lelah untuk menyaksikan dua buah candi yang diukirkan di tebing, dengan aliran sungai kecil yang bermuara di Sungai Pakerisan. Inilah Candi tebing Tegallinggah, salah satu reruntuhan tempat pemujaan klasik Hindu-Buddha yang kini telah ditetapkan sebagai warisan cagar budaya di Pulau Bali.

Candi Tebing Tegallinggah.

Keberadaan candi ini terungkap ketika seorang sejarawan berkebangsaan Belanda, Krijsman, tengah meneliti sebuah gapura di Bali. Terdapat dua buah candi yang diukir di tebing serta tujuh buah relung atau cerukan yang digunakan untuk bermeditasi. Pada puncak kedua candi, terdapat tiga buah lingga yang melambangkan Trimurti.

Gapura di sebelah kanan candi.
Relung-relung untuk melakukan meditasi.
Sungai Pakerisan yang mengalir di depan candi.

Sama seperti kondisi situs Goa Gajah, candi ini juga mengalami kerusakan di beberapa tempat. Batu-batu bergores yang jatuh di hadapan candi juga mungkin disebabkan oleh gempa bumi dan tanah longsor. Oleh karenanya, pengunjung harus berhati-hati untuk melangkah di sekitar lokasi Candi.

Candi Tegallinggah

Lokasi administratif: Dusun Tegallinggah, Desa Blahbatuh, Kecamatan Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali.

Koordinat: -8.5278717, 115.3038493

Tarif masuk: -


Relief Bebitra

Seperti namanya, situs cagar budaya Bebitra ini merupakan tempat meditasi yang dihiasi oleh relief-relief. Sepintas, lokasi situs ini tampak seperti cekungan yang cukup dalam, dengan panel-panel relief dan pancuran air. Setidaknya, terdapat enam buah panel relief yang masing-masing menggambarkan kisah yang berbeda. Tulisan yang membahas tentang relief ini secara runtut dibahas oleh Bapak Putu Yogi Sudiana.

Relief Bebitra 1.
Relief Bebitra 2.
Salah satu relung dengan hiasan relief Kalasungsang dan Dwarapala.

Panel relief tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Relief wayang, yang belum diketahui asal-usul ceritanya namun kurang lebih menggambarkan para dewa dan resi serta keluarga Pandawa.
  2. Relief Garuda, yang kurang lebih mengisahkan bakti Dewa Garuda kepada ibunya.
  3. Relief Kalasungsang, yaitu raksasa yang berjalan terbalik. Makna dari relief ini kurang lebih untuk menolak malapetaka.
  4. Relief Dwarapala, yaitu raksasa penjaga gerbang (seperti yang terdapat pada candi-candi lain). Dwarapala juga bermakna untuk menolak malapetaka.
  5. Relief laki-laki dan perempuan, yang juga belum diketahui asal-usul dari karakter yang digambarkan.
  6. Relief Tantri, yang mengisahkan tentang Anjing Sembada yang mengadu domba dua sahabat Singa Pinggala dan Lembu Nandaka. Dalam tesisnya, Bapak Yogi menitik beratkan pada fungsi, kisah, serta keberadaan Relief Tantri di antara seluruh relief di kompleks Relief Bebitra.

Keberadaan Relief Bebitra juga tidak dapat dipisahkan dengan legenda yang berkembang di masyarakat: kisah dua pemimpin Desa Peling, yakni Mas Pahit sebagai adipati dan sepupunya Wedang Serawah yang sekaligus menjadi patihnya. Karena terpikat dengan salah satu istri dari Mas Pahit, Wedang Serawah harus menjadi buronan Mas Pahit. Tempat yang menjadi situs Relief Bebitra ini konon dulunya merupakan tempat yang digunakan Mas Pahit untuk menenangkan diri.

Pancuran dengan jaladwara Garuda.

Relief Bebitra

Lokasi administratif: Dusun Banjar Roban, Desa Bitera, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali.

Koordinat: -8.5405314, 115.3173065.

Tarif masuk: -


Candi Jehem

Candi Jehem merupakan candi yang saya ceritakan di dalam prolog artikel ini.

Candi Jehem.

Akibat longsor yang terjadi pada tahun 1991, batuan Candi Jehem terlepas dan jatuh ke dasar jurang. Tak lama, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Gianyar merelokasi candi ini tidak jauh dari lokasi aslinya. Di tempat yang baru, Candi Jehem dibuatkan pondasi, cungkup serta pagar. Selain itu, tempatnya menjadi lebih landai untuk mempermudah para wisatawan atau peziarah yang datang untuk menyaksikannya. Aliran air terjun yang mengalir ke Sungai Melangit di sisi kanan candi membuat Candi Jehem semakin nyaman dan asri.

Batu candi tebing Jehem yang bermotif Buddha.
Lokasi baru Candi Jehem, dipagari dan diberi cungkup.

Jika diperhatikan, puncak dari relief candi berbentuk menyerupai stupa. Pintu candi diapit oleh relief arca yang sudah aus. Tidak diketahui siapakah karakter yang digambarkan oleh arca tersebut, namun sekilas tampak seperti pendeta Buddha yang mengenakan kain.

Candi Jehem

Lokasi administratif: Dusun Jehem Kaja, Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali.

Koordinat: -8.44065, 115.373631.

Tarif masuk: -


Candi Tambahan Tembuku

Berbeda dari Candi Jehem, Candi Tambahan Tembuku masih menempati lokasi aslinya di tepi tebing. Akan tetapi posisinya saat ini sangat terancam, tidak lebih dari dua meter tanah setapak yang ada di depan candi. Di sebelah kiri candi, terdapat ceruk yang diduga juga merupakan tempat untuk bermeditasi.

Candi tebing Tambahan Tembuku.

Candi Tambahan Tembuku ditemukan oleh warga sekitar tahun 1980. Karena berlokasi tidak jauh dari Beji Pesiraman Gredeg, candi ini juga masih digunakan untuk tradisi beji.

Candi dan ceruk di samping kirinya.

Candi Tambahan Tembuku

Lokasi administratif: Dusun Tambahan Kelod, Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali.

Koordinat: -8.468198, 115.3708727.

Tarif masuk: -


Aku pun menyalakan tiga batang dupa, memajamkan mata sejenak, kemudian meletakkan dupa itu di depan candi. Aku pun beranjak dari candi yang pernah terjatuh itu; kini dia tampak lebih tenang. Air terjun dan desiran daun bergantian menemani candi itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *