0

Buleleng dan Kiasan Lima Abad

"Untuk menghindari pertumpahan darah, mereka menggambarkan karakter masyarakat tempo dulu dengan Arjuna, patih dan pasukan-pasukan Bharatayudha," ungkap Pak Suyadnya -seseorang yang menemani saya di sebuah pura dalem di Desa Jagaraga, Buleleng. Beberapa relief yang saya jumpai memang sarat dengan simbol-simbol untuk menghindari prasangka dari penjajah.

Pak Suyadnya menekankan bahwa sudah berabad-abad Buleleng menjadi pusat pemerintahan sebelum dipindahkan ke Denpasar, sekaligus pionir pertahanan dari gugusan Sunda Kecil (sebutan untuk kepulauan yang mencakup provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan negara Timor Leste). "Kalau Buleleng hancur, maka hancurlah Sunda Kecil."

Selain menjadi pusat pemerintahan, Buleleng juga merupakan petilasan dari beberapa tokoh heroik dan memiliki "kesaktian". Sebut saja Patih Kebo Iwa yang disebut-sebut sebagai lawan seimbang dari Patih Gajah Mada, I Gusti Ketut Jelantik yang kebal senjata, hingga pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai. Setidaknya, ketiga nama itu dikisahkan secara turun-temurun oleh pengikut setia mereka, para pemangku pura, hingga pemandu wisata di Buleleng bahkan di seluruh Bali.

Sembilan Hari di Pulau Dewata: Bagian Pertama

Buleleng dan Kiasan Lima Abad mengawali jurnal perjalanan saya di situs-situs bersejarah yang tersebar di Pulau Bali. Bagi para wisatawan, Bali lebih dikenal dengan pantai-pantainya yang eksotis, pura-pura besar, pertunjukan tari-tarian tradisional yang memukau, kerajinan tangan yang tiada duanya, maupun area yang banyak bule (wisatawan luar negeri).

Di antara destinasi yang dipadati wisatawan, ternyata masih banyak destinasi wisata lainnya yang mungkin tidak begitu ramai namun memiliki nilai sejarah yang tinggi. Dari belasan situs cagar budaya di Buleleng, setidaknya empat situs ini wajib Anda kunjungi.

Candi Buddha Kalibukbuk

Yang pertama adalah situs berlatar belakang agama Buddha yang dikenal sebagai Situs Candi Buddha Kalibukbuk. Candi ini terletak di Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Candi ini diperkirakan berasal dari abad IX / X dan baru terungkap keberadaannya pada September 1994.

Candi Kalibukbuk
Kompleks Candi Kalibukbuk

Pemuan candi ini bermula ketika salah seorang warga tengah menggali dan membersihkan sumur di rumahnya. Ketika itu ditemukan struktur batu bata terpendam yang tidak lazim. Setelah melapor pada pihak berwajib, maka dilakukan proses ekskavasi oleh Balai Arkeologi Denpasar secara bertahap hingga situs ini diresmikan pada 17 Januari 2009.

Candi Kalibukbuk terdiri dari tiga bangunan: satu candi utama yang diapit oleh dua candi perwara (atau candi pengapit yang berukuran lebih kecil). Batuan asli Candi Kalibukbuk kurang lebih hingga bagian pondasi candi dan stupa. Sedangkan bagian tubuh dan puncak stupa di candi utama merupakan batu baru yang disusun untuk melengkapi bentuk candi. Ketiga bangunan candi tersebut diberi pagar sementara, yang kemudian dibuka sebagai tempat pariwisata. Ada yang menyebutkan bahwa kompleks Candi Kalibukbuk ini masih luas dan masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk penelitian.

Bagian dalam Candi
Bagian dalam candi utama Kalibukbuk
Tampak Luar
Tampak luar Candi Kalibukbuk
Candi Kalibukbuk
Candi Kalibukbuk dari pintu masuk.

Menurut pandangan beberapa ahli sejarah, Candi Kalibukbuk ini menjadi salah satu saksi masuknya agama Ciwa-Buddha ke Pulau Bali. Perlu diketahui bahwa agama ini merupakan akulturasi dari Hindu dan Buddha yang telah berkembang di kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Timur.

Pura Kawitan Leluhur Majapahit

Tidak jauh dari Candi Kalibukbuk, terdapat sebuah pura baru yang dikenal sebagai Pura Kawitan Leluhur Majapahit. Pura ini sebenarnya tidak termasuk dalam rangkaian cagar budaya bersejarah. Meskipun demikian, pura ini memiliki kisah pembangunan yang erat kaitannya dengan Candi Kalibukbuk.

Pura Kawitan Leluhur Majapahit
Pura Kawitan Leluhur Majapahit

Pembangunan pura ini diawali dari sebuah "petunjuk" leluhur, melalui pratima arca Ganesha dan Buddha yang berasal dari Desa Ungasan, Jimbaran. Petunjuk tersebut kurang lebih berarti bahwa para leluhur ingin dibuatkan parahyangan di sekitar candi Ciwa Buddha, yang tidak lain adalah Candi Kalibukbuk.

Surya Majapahit
Surya Majaphit, lambang negara Majapahit

Menurut kepercayaan, para leluhur tersebut berasal dari Kerajaan Majapahit yang beragama Ciwa Buddha. Karena di tempat mereka dahulu (Jawa Timur) sudah tidak ada altar pemujaan, maka mereka "meminta" untuk dipindahkan dari Jawa ke Bali dan menempati suatu pura di Jimbaran. Pada saat keberadaan candi Ciwa Buddha terungkap dan telah diresmikan, para leluhur tersebut merasa bahwa di tempat itulah mereka akan menemukan kedamaian -sama seperti sedia kala.

Kori Agung
Kori Agung Pura Leluhur Kawitan Majaphit

Pura ini berada sekitar dua ratus meter sebelah tenggara dari lokasi Candi Kalibukbuk. Untuk menuju ke sana, pengunjung dapat berjalan kaki. Disarankan untuk menghubungi pemangku pura atau juru kunci dari Candi Kalibukbuk.

Candi Buddha Kalibukbuk dan Pura Kawitan Leluhur Majapahit

Lokasi Administratif: Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali.
Koordinat: -8.1638086, 115.0292169.
Website: www.buleleng.com.
Tarif masuk: -
Lokasi candi dan pura tidak jauh dari lokasi Pantai Lovina.

Pura Meduwe Karang

Beralih ke timur Buleleng, saya mengunjungi situs cagar budaya Pura Meduwe Karang yang terletak di Desa Kubutambahan. Desa Kubutambahan berada kurang lebih 14 kilometer dari Singaraja, menelusuri pesisir utara Bali ke arah Kabupaten Karangasem.

Pura Meduwe Karang
Pura Meduwe Karang

Pura Meduwe Karang dapat diartikan sebagai Pura Pemilik Lahan. Menurut penuturan masyarakat setempat, pura ini sengaja dibangun sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan supaya lahan di Desa Kubutambahan dianugerahi kesuburan. Sejak dulu, wilayah di sekitar Kubutambahan memang merupakan area subur di mana terdapat perkebunan jeruk, kelapa, kopi, ubi kayu dan jagung.

Gaya arsitektur dari pura ini merupakan khas bentuk pura di Bali Utara: di mana pura terdiri dari gugusan tangga berundak, dengan hiasan detail arca dan relief. Pada bagian depan, terdapat deretan arca-arca yang menggambarkan karakter yang diceritakan dalam kisah Ramayana. Menurut catatan sejarah, pura ini didirikan pada tahun 1890 oleh para migrasi lokal yang berasal dari Desa Bulian.

Umumnya, relief di dinding pura (atau candi) menceritakan epos-epos berlatar belakang agama Hindu. Akan tetapi, saya menemukan hal yang unik di salah satu dinding pura sebelah utara: ada relief yang menggambarkan seorang bule mengendarai sepeda. Kabarnya, relief tersebut menggambarkan seorang pelukis berkebangsaan Belanda bernama W. O. J. Nieuwenkamp yang sering berkeliling di Bali sekitar tahun 1900-an. Relief tersebut dibuat kurang lebih pada tahun 1904, namun mengalami proses perbaikan karena hancur pasca terjadi gempa bumi. Pada saat restorasi, salah satu roda sepeda yang dikendarai diubah menjadi bentuk teratai. Memang sejak sebelum perang dunia kedua, Kubutambahan telah ramai dikunjungi wisatawan dari luar negeri.

Gapura Bentar dan Arca-arca Ramayana
Gapura Bentar dan Arca-arca Ramayana
Arca-arca Ramayana
Arca-arca Ramayana
Nieuwenkamp
Relief Nieuwenkamp sedang mengendarai sepeda

Pura Meduwe Karang

Lokasi Administratif: Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Koordinat: -8.0774998, 115.1702479.
Website: wisatabuleleng.wordpress.com.
Tarif masuk: -

Pura Dalem Segara Madu Jagaraga

Dalam perjalanan pulang menuju Kota Singaraja, saya menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu pura dalem (yaitu pura yang berada di sekitar setra atau kuburan) di desa Jagaraga. Menurut informasi yang saya peroleh, pura ini juga memiliki keunikan yang tidak ditemukan di pura-pura lainnya. Keunikan apakah itu?

Pura Dalem Segara Madu
Pura Dalem Segara Madu

Secara historis, tidak diketahui dengan pasti kapan pura ini dibangun. Akan tetapi, terdapat catatan yang menyatakan bahwa Desa Jagaraga pernah menjadi markas komando laskar Bali dalam Perang Jagaraga pada tahun 1848. Tersebutlah I Gusti Ketut Jelantik dan juga istrinya Jero Jempiring, dua pahlawan Bali yang memimpin para tentara dalam dua laga Perang Jagaraga. Pura dalem inilah yang menjadi pusat kegiatan religius, sekaligus pembakar semangat para laskar Bali yang bermarkas di depan pura.

Bagian dalam Pura
Bagian dalam Pura

Pertama kali melihat bagian luar pura dalem ini, saya takjub akan keberadaan pintu Kori Agung yang justru berada di bagian depan. Barulah Gapura Bentar berada di dalam, yang menjadi batas antara pusat pura dengan pelatarannya. Jika di pura lain, posisi pura utama berada lebih tinggi dari pelatarannya; maka pura dalem ini justru terbalik, semakin ke dalam semakin turun ke bawah. Hal ini juga menyimbolkan bahwa dalam kehidupan, manusia harus semakin berintrospeksi ke dalam dirinya.

Gapura bentar pura, yang justru berada di dalam Kori Agung.
Gapura bentar pura, yang justru berada di dalam Kori Agung.

Pada dinding Kori Agung bagian luar, terdapat relief yang menggambarkan perjuangan laskar Bali melawan penjajah. Laskar Bali tersebut disimbolkan sebagai Arjuna, patih dan tentara Bharatayuda. Sedangkan penjajah digambarkan dengan mengendarai mobil, kapal dan pesawat tempur, yang menggambarkan bahwa penyerangan terhadap Jagaraga datang dari segala arah dan penjuru. Penyimbolan karakter-karakter Hindu yang kontras melawan penjajah era kolonial ini bertujuan supaya tidak menyinggung peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Laskar Bali diserang tentara Belanda dari udara
Laskar Bali diserang tentara Belanda dari udara

Pada dinding Kori Agung bagian dalam, tampak ada relief yang menggambarkan seorang nakhoda yang menjalankan kapal mengarungi lautan. Di dalam lautan, terdapat ikan besar serta buaya yang sedang memakan manusia. Hal ini menggambarkan mengenai perjalanan kehidupan seseorang. Apabila manusia "sadar", maka dirinya akan selamat dalam mengarungi arus kehidupan ini. Namun apabila manusia kehilangan kendali, maka dirinya akan terjerumus dalam masalah, seakan-akan dimakan oleh buaya.

Mengarungi lautan
Mengarungi lautan
Adegan Laskar Bali Melawan Tentara Belanda
Relief adegan laskar Bali (dilambangkan dengan Arjuna dan bala tentara Bharatayuda) melawan tentara Belanda

Pura Dalem Segara Madu Jagaraga

Lokasi Administratif: Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Koordinat: -8.1059678, 115.1601173.
Website: jagaragasgr.blogspot.com.
Tarif masuk: -

"Pak, ada tamu dari Jerman," terdengar suara yang memecah cerita Pak Suyadnya. Beliau pun tampak menyambut kehadiran orang-orang Jerman tersebut seraya menceritakan kembali apa yang telah beliau ceritakan kepada saya. Satu percakapan yang menjadi penutup perjumpaan saya dengan Pak Suyadnya, "Leluhur kita (sejak jaman Majapahit) bukanlah orang-orang yang biasa saja, melainkan orang-orang yang sangat bijaksana. Mereka bisa menceritakan secara turun temurun, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan bahkan dalam bentuk kiasan yang tergambar di relief-relief pura (dan candi); sejak eksistensi Kerajaan Bali hingga kini."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *