0

Museum M. H. Thamrin

Di beberapa kota di Indonesia, jalan-jalan protokol diberi nama pahlawan sekelas jendral besar atau pahlawan besar lain yang memang besar di daerah asal mereka. Sebagai jalan protokol yang dihuni oleh gedung-gedung bisnis pencakar langit, Jalan M. H. Thamrin berlokasi sangat strategis di pusat ibukota. Namun siapakah sosok Mohammad Husni Thamrin yang kini dikenang sebagai nama jalan tersebut? Sambil menghabiskan waktu berpuasa, saya pun memancal kendaraan saya untuk menambah wawasan -dengan mengunjungi bangunan museum yang didedikasikan untuk beliau.

M. H. Thamrin

Muhammad Husni Thamrin lahir pada tanggal 16 Februari 1894 di Sawah Besar, Jakarta dari pasangan Thabrie Thamrin dan Nurhana. Ayahnya adalah seorang wedana, jabatan pribumi tertinggi setelah bupati. Masa kecilnya, M. H. Thamrin dikenal dengan nama Matseni, seorang anak yang nakal, berani namun cerdas. Dibuktikan dari prestasi yang beliau peroleh semasa bersekolah di Institut Bosch, Bijbel School, dan Gymnasium Konimg Willem III. Selain itu, Matseni juga dikenal sebagai pemuda yang mudah bergaul dengan siapa saja.

M.H. Thamrin dan Istri
M. H. Thamrin dan istri
Seusai pendidikan, Thamrin sempat bekerja di perusahaan pelayaran Belanda Koninklijk Paketvaart Maatschappij. Di sinilah Thamrin bertemu dengan seorang sosialis dari Belanda yang memengaruhi pemikirannya terhadap bangsa. Singkat cerita, Thamrin banyak terjun ke dalam dewan serta organisasi yang memajukan masyarakat serta membawa aspirasi rakyat Betawi. M. H. Thamrin wafat pada 11 Januari 1941. Penyebab wafatnya diduga dibunuh oleh Belanda -walaupun ada catatan yang menyebutkan bahwa beliau bunuh diri. Beliau wafat di tengah suasana penjagaan oleh Belanda karena diduga melakukan pergerakan-pergerakan yang menyerang Belanda. Salah satu karya besar Thamrin adalah pembangunan kampung dan penyediaan air bersih untuk masyarakat. Nama M. H. Thamrin juga diabadikan sebagai proyek instalasi Penjernihan Air Minum Pejompongan yang dikerjakan setelah beliau wafat -pada tahun 1970.

Museum M. H. Thamrin

Museum M. H. Thamrin berlokasi cukup masuk-masuk ke dalam kampung namun tidak jauh dari Jalan Salemba Raya. Tidak tampak adanya petunjuk museum di tepi jalan raya, namun informasi mengenai keberadaannya telah saya peroleh sebelumnya. Patung M. H. Thamrin berdiri dengan memegang buku dan mengenakan peci menyambut kedatangan saya. Museum tampak sepi pengunjung, hanya dua orang penjaga dan beberapa pengrajin batu akik tampak berada di depan.
Museum M.H. Thamrin
Tampak depan museum

Museum terbagi menjadi beberapa ruangan, namun hanya ada dua ruangan yang digunakan untuk pameran. Ruangan pertama adalah ruangan utama yang menyimpan patung dada M. H. Thamrin , barang-barang koleksi (lemari, meja, radio, keramik dan barang-barang peninggalan M. H. Thamrin), reproduksi dari foto-foto M. H. Thamrin, replika kereta jenazah, dan diorama peristiwa yang melibatkan M. H. Thamrin. Sedangkan ruangan kedua merupakan ruangan audio visual -yang waktu itu tidak dinyalakan, dan juga menyimpan perlengkapan tanjidor -salah satu kesenian tradisional Betawi.

Koleksi Museum
Koleksi museum: perabotan rumah, reproduksi foto, lukisan dan benda-benda yang digunakan oleh M. H. Thamrin
Replika Kereta Jenazah
Replika kereta jenazah
Ondel-ondel
Diorama betawi

Museum terletak di Jalan Kenari II nomor 15, Jakarta Pusat. Gedung museum ini dulunya merupakan rumah pemotongan daging, yang berubah jadi penyimpanan buah impor. Gedung ini dibeli oleh M. H. Thamrin untuk Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada tahun 1928. Selain itu, gedung ini juga digunakan untuk beberapa pertemuan, seperti Kongres Partai Nasional Indonesia (1928), Kongres Persatuan Arab (1935), Kongres Gabungan Partai Indonesia (1939), dan juga tempat pendidikan perguruan rakyat. Pada tahun 1972, gedung ini diresmikan sebagai Bangunan Cagar Budaya dan diresmikan sebagai Museum M. H. Thamrin pada tanggal 11 Januari 1986.

Diorama
Diorama perjuangan pemuda Indonesia yang melibatkan M. H. Thamrin

Penutup

Oh, begitu tho. Satu hal saya kutip dari balik patung M. H. Thamrin, "Memilih djalan jang sesoeai dengan perasaan ra'jat akan membikin ia bekerdja bersama-sama dengan gembira oentoek kesentaoesaan Noesa dan Bangsa." merupakan semangat yang beliau pegang semasa hidupnya. Tidak ada bangsa yang besar yang tidak menghargai jasa para pahlawannya. Mereka telah mendahului kita, tinggal kita yang berjuang mempertahankannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *