0

Kesultanan Lingga: Jejak Imperium Melayu di Pulau Penyengat

Lantunan tembang Melayu berkumandang ketika saya melangkahkan kaki di pelabuhan Pulau Penyengat. Suasana hangat Idul Fitri 1436 H masih terasa; bersambut dengan riuh langkah pengunjung lainnya yang berkunjung ke pulau tersebut. Seraya bertemu sanak saudara, mereka turut berziarah sekaligus berwisata di peninggalan Imperium Melayu di Pulau Penyengat; sebuah warisan budaya Melayu di Kepulauan Riau.

Imperium Melayu: Johor, Pahang, Siak dan Lingga

Menurut sumber yang saya baca, Pulau Penyengat menjadi saksi perang saudara yang terjadi di dalam tubuh Imperium Melayu: Kesultanan Johor-Pahang-Siak-Lingga. Perang saudara tersebut terjadi karena perebutan tahta kekuasaan yang terjadi secara berkala, hingga akhirnya dipisahkan oleh sebuah Perjanjian London pada tahun 1824. Berdasarkan perjanjian itu, Johor dan Pahang didukung oleh Inggris; sedangkan Siak dan Lingga didukung oleh Belanda. Saat ini, Johor dan Pahang menjadi dua negara yang menjadi bagian dari Malaysia. Sedangkan Siak dan Lingga termasuk dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kesultanan Siak berpusat di sekitar Kampar, Provinsi Riau; sedangkan Kesultanan Lingga berpusat di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau Penyengat menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Lingga. Selain memiliki beberapa peninggalan bersejarah berupa bangunan, Kesultanan Lingga merupakan salah pusat peradaban Melayu yang melahirkan bahasa Indonesia yang digunakan hingga sekarang. Salah satu sastra yang sangat terkenal adalah Gurindam Dua Belas karangan Raja Haji Ali; siapa lagi kalau bukan salah satu tokoh pahlawan nasional.

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad Riau Courtesy of: njleputh.uiwap.com

Peninggalan Kesultanan Lingga

Ketika saya berkunjung ke sana, beberapa lokasi bersejarah termasuk masjid, keraton dan makam tampak dipadati oleh pengunjung. Mungkin saya tidak mendapatkan foto terbaik atau bahkan terlewatkan begitu saja, akan tetapi saya akan mencoba memberikan sedikit rangkuman dari situs-situs bersejarah di Pulau Penyengat. Beberapa foto saya ambilkan dari website lain yang mungkin akan mendukung artikel ini. Mari ikuti perjalanan saya.

Masjid Raya Sultan Riau

Masjid ini terletak sangat dekat dengan pelabuhan Pulau Penyengat. Sebelum direnovasi, mulanya masjid ini terbuat dari kayu dan berukuran kecil. Atas prakarsa Sultan Abdurrahman, masjid tersebut dibangun kembali dengan ukuran yang lebih luas serta menggunakan campuran putih telur sebagai perekatnya. Pembangunan dilaksanakan sekitar tahun 1761 - 1812 M dengan mengerahkan seluruh warga Pulau Penyengat pada waktu itu.

Masjid ini memiliki sebanyak 13 kubah dan 4 atap menara. Apabila dijumlahkan, 17 menjadi lambang jumlah rakat sholat yang harus dijalani umat Islam selama sehari. Selain bentuk arsitektur yang unik, masjid ini juga menyimpan lebih dari 300 kitab mushaf Al-Qur'an yang ditulis oleh beberapa penulis, salah satunya adalah Abdurrahman Stambul, putera Riau yang diutus oleh Sultan untuk belajar di Turki sekitar tahun 1867 M.

Masjid Raya Kesultanan Riau
Masjid raya Kesultanan Lingga Riau

Istana Kantor

Istana kantor merupakan istana sekaligus kantor yang didirikan pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844 - 1857 M). Gedung istana hanya menyisakan bangunan utama (mungkin kantor) dan sebuah menara pandang yang dikelilingi dinding. Di bagian belakang bangunan utama tampak puing-puing yang saya duga merupakan bagian dari istana.

Istana Kantor
Istana Kantor
Gerbang / Gardu Istana Kantor
Gerbang atau gardu Istana Kantor

Makam Raja-Raja Kesultanan Lingga

Selain masjid dan istana, terdapat pusara tempat dikebumikannya raja-raja Kesultanan Lingga; antara lain sebagai berikut:

Makam Raja Abdurrahman

Raja Abdurrahman merupakan Yang Dipertuan Muda Riau VII yang berkuasa pada tahun 1832 - 1844 M. Makam beliau dihiasi oleh nisan yang terbuat dari batu granit. Beliaulah yang memprakarsai berdirinya Masjid Raya Sultan Riau. Tidak jauh dari makam raja, terdapat makam penasehatnya yang bernama Ibrahim.

Kompleks Makam Raja Abdurrahman YDM VII
Kompleks makam Raja Abdurrahman YDM VII
Nisan Makam Raja Abdurrahman YDM VII
Nisan makam Raja Abdurrahman YDM VII
Makam Raja Ja'far dan Raja Ali

Raja Ja'far merupakan Yang Dipertuan Muda Riau VI (1806 - 1831 M). Yang berdampingan dengan makam beliau adalah makam dari Raja Ali yang merupakan Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1844 - 1855 M). Pada masa pemerintahan Raja Ja'far, terjadi perebutan kekuasaan antara Inggris dan Belanda. Makam kedua raja ini ditutup oleh bangunan yang menyerupai masjid. Di bagian luarnya terdapat kolam yang digunakan untuk wudhu.

Kompleks Makam Raja Ja'far
Kompleks Makam Raja Ja'far dan Raja Ali
Nisan Makam Raja Ja'far YDM VI dan Raja Ali YDM VIII
Nisan Makam Raja Ja'far YDM VI dan Raja Ali YDM VIII
Makam Raja Hamidah (Engku Puteri)

Engku Puteri merupakan putri Yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Syahid Fisabilillah Mahrum yang merupakan istri Sultan Mahmud, sekaligus penasihat Raja Ja'far. Engku Puteri juga dipercaya untuk memegang alat-alat kebesaran kerajaan (regalia). Di sekitar makam beliau, terdapat makam dari Yang Dipertuan Muda Riau IX, Raja Abdullah dan juga Raja Ali Haji yang dikenal karena Gurindam Dua Belas-nya. Makam ini terlewatkan oleh saya ketika berkunjung ke sana.

Kompleks Makam Raja Hamidah (Engku Puteri) Courtesy of: pondokwisataselesa.blogspot.co.id
Makam Raja Haji Fisabilillah

Raja Haji Fisabilillah merupakan Yang Dipertuan Muda Riau IV, ayah dari Engku Puteri. Selain dikenal sebagai raja, beliau juga mendapat penghargaan sebagai pahlawan nasional dalam perang bahari. Di samping makam raja, terdapat makam Habib Sheikh bin Habib Alwi Assegaf, keturunan dari Nabi Muhammad SAW yang menjadi guru Raja Abdurrahman dan ulama di Kesultanan Lingga.

Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah YDM IV.
Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah YDM IV
Makam Habib Sheikh
Makam Habib Sheikh

Benteng Bukit Kursi

Pulau Penyengat dilindungi oleh beberapa benteng, seperti Benteng Bukit Kursi, Benteng Tanjung Nibung, dan Benteng Bukit Pengawal. Benteng yang saya kunjungi adalah benteng terbesar, yakni Benteng Bukit Kursi. Walaupun kini tampak seperti sebuah lapangan, dinding-dinding benteng yang disusun oleh batuan koral masih dapat dilihat. Beberapa meriam juga masih tampak menghiasi setiap sudut benteng meski sudah tidak dapat digunakan lagi.

Benteng Bukit Kursi
Benteng Bukit Kursi
Meriam
Meriam di Benteng Bukit Kursi

Bangunan Lainnya

Masih di rangkaian sejarah Pulau Penyengat, terdapat bangunan lainnya yang tentu menarik untuk dilihat, antara lain sebagai berikut:

Gudang Mesiu

Gedung ini digunakan untuk menyimpan mesiu. Saat ini hanya tersisa satu dari empat gedung yang seharusnya tersebar di Pulau Penyengat. Gedung mesiu ini terletak tidak jauh dari kompleks makam Raja Abdurrahman.

Gudang Mesiu
Gudang Mesiu
Perigi Putri

Perigi putri atau sumur putri merupakan sumur mata air untuk mandi para putri Kesultanan Lingga. Sumur dikelilingi oleh bangunan tertutup (hanya atap sumur yang terbuka), serta terdapat kursi di dalam bangunan tersebut. Hingga kini, air dari sumur ini masih dipercaya berkhasiat -walaupun kini tampak tidak terawat.

Perigi Putri
Perigi Putri
Sumur di dalam Perigi Putri
Sumur di dalam Perigi Putri

Pulau Penyengat

Istilah "Penyengat" sendiri tidak berhubungan dengan sejarah Kesultanan Lingga. Pada mulanya, pulau ini menjadi tempat singgah para penjelajah samudera yang hendak ingin mengambil air bersih. Ketika mengambil air, banyak di antara mereka yang diserang hewan penyengat -mungkin lebah. Oleh karenanya, pulau ini dijuluki Pulau Penyengat.

Kompleks bersejarah Pulau Penyengat berada tidak jauh dari pusat kota Tanjung Pinang. Untuk menuju ke pulau tersebut, para pengunjung dapat menggunakan kapal kecil yang berangkat dari pelabuhan kecil; tidak jauh dari pelabuhan Sri Bintan Pura.

  • Tarif menyeberang ke Pulau Penyengat: Rp7.000,00 per orang (20 Juli 2015).
  • Tarif masuk situs: Tidak ada informasi -seikhlasnya-.

Selain berwisata sejarah atau berziarah, para pengunjung juga dapat menikmati sajian laut Kepulauan Riau: ikan bakar dengan bumbu khas Melayu. Setelah berkeliling seharian, saya pun menikmati ikan bakar di salah satu warung yang ada di sana. Sayangnya, harga dari ikan bakar tidak tertulis di menu: saya harus merogoh kocek Rp95.000,00 untuk satu ikan, seporsi ca kangkung, dua porsi nasi putih dan teh obeng (es teh). Meskipun demikian, berkunjung ke Pulau Penyengat bisa menjadi kepuasan tersendiri bagi para pelajar serta pengagum budaya nusantara. Apalagi kesultanan ini menjadi salah satu tulang punggung budaya Melayu di nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *