4

Sembilan Hari Keliling Asia Tenggara

Asia Tenggara memiliki pesona tersendiri bagi para traveler, entah itu untuk tujuan kuliner, backpacker atau sekedar berbelanja. Selama kurang lebih sembilan hari (29 Mei - 6 Juni 2015), saya bersama beberapa teman mencoba untuk blusukan di negara tetangga; lebih tepatnya di Singapore (Singapore), Ho Chi Minh (Vietnam), Phnom Penh dan Siem Reap (Cambodia). Konsep travel yang kami lakukan adalah campuran antara wisata budaya ala backpacker, kuliner sekaligus berbelanja. Oleh karenanya, kami tidak hanya fokus pada salah satu jenis: pasar saja atau candi/wihara saja, melainkan berkeliling bahkan improvisasi di tengah jalan.

Berikut ini saya akan menceritakan itinerary perjalanan yang saya beri judul "Sembilan Hari Keliling Asia Tenggara"

29 Mei - Persiapan

Perjalanan dimulai pada hari Jumat, tanggal 29 Mei. Saya sudah mulai mempersiapkan barang bawaan yang cukup untuk 5 hari ke depan. Selain mau ngirit bawa barang, saya memang mau beli kaos di sana. Tujuan penerbangan sebenarnya ke Ho Chi Minh City, transit di Singapore. Sekitar pukul 7 malam, kami berangkat menuju ke Singapore. Sekitar 1 jam kami sudah tiba di Bandara Changi Singapore, bermalam "ngemper" di dalam bandara.

30 Mei - Singapore Sightseeing

Berhubung pesawat menuju Ho Chi Minh baru berangkat pukul 2 siang, maka kami masih punya waktu sampai pukul 12 siang. Kami pun membeli tiket MRT senilai SGD 20.00, SGD 10.00 untuk jalan ke mana saja dan SGD 10.00 untuk jaminan yang nantinya dikembalikan. Di Singapore, kami jalan-jalan ke tempat-tempat berikut:

  • Raffles Place - Pagi-pagi masih bisa dapet sunrise di sekitar Merlion Park dan latar belakang Marina Bay. Paling tidak, di Singapore harus dapat view ini.
  • Bugis - Di sini kami mencicipi mie ala Chinese. Harga mie nya SGD 3.00. Jujur saja, saya tidak pesan minuman karena isi minum di bandara (hahaha).
  • China Town - Bagi yang penggila belanja, China Town dan Bugis bisa jadi sasaran. Tapi menurut pendapat saya, China Town memberikan harga yang lebih kompetetif dibanding Bugis. Selain berbelanja, kami mampir ke Buddha Tooth Relic Temple and Museum, Sri Mariamman Temple dan Jamae Mosque. Kami juga sempat beli es krim Singapore seharga SGD 1.50.

Bertolak dari China Town, kami kembali lagi ke Bandara Changi untuk terbang ke Ho Chi Minh. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 1.5 jam. Tiba di Ho Chi Minh City, kami langsung menuju ke penginapan (Bizu Hotel) di sekitar Phạm Ngũ Lão street. Kami menghabiskan waktu malam untuk berkeliling kota Ho Chi Minh sambil street-culinary. Bagi yang hanya makan makanan halal, Ben Tanh Market bisa menjadi pilihan kuliner yang juga oke.

31 Mei - Phnom Penh at a Glance

Keesokan paginya, kami bersiap-siap berangkat menuju Phnom Penh dengan menggunakan bus Giant Ibis. Perjalanan dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh memakan waktu 7 hingga 8 jam. Karena berbeda negara, maka seluruh penumpang diwajibkan untuk turun dan cap paspor dua kali, yaitu di Vietnam dan Kamboja.

  • Kantor imigrasi Vietnam tampak lebih sederhana. Tidak ada microphone yang membantu para petugas imigrasi, meskipun para imigran diwajibkan mengantri serta memasang telinga supaya namanya terdengar dan dieja dengan cukup jelas oleh petugas.
  • Terdapat restoran dan duty free yang terletak di wilayah status quo antara kantor imigrasi Vietnam dan Kamboja. Saya membeli wine dengan harga yang sangat murah di duty free ini.
  • Kantor imigrasi Kamboja sangat mewah, serta tidak perlu antri lama-lama seperti di kantor imigrasi Vietnam.
  • Dari kejauhan akan tampak banyak sekali gedung Casino yang bagi saya cukup 'mencurigakan'. (Don't be so serious!)

Tidak perlu berlama-lama, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Phnom Penh yang jaraknya masih cukup jauh. Tampak sedikit perbedaan setelah melewati gedung-gedung Casino. Apabila suasana perjalanan di Vietnam mirip dengan jalur Pantura Jawa, maka suasana di Kamboja mirip lintas Sumatera. Jalanan tampak sedikit gersang hingga delta Sungai Mekong menyambut kami.

Tiba di Phnom Penh, kami pun langsung menelusuri jalan perkotaan menembus pasar tradisional. Tidak jauh dari pasar, kami makan seafood dengan pramusaji yang selalu berkata, "Oke!" dengan cukup tegas namun terdengar agak lebih tinggi jika berbicara dengan rekan pramusaji lainnya.

Seusai makan siang (sore), kami menghabiskan waktu di alun-alun kota Phnom Penh (di depan Phnom Penh Royal Palace). Sayangnya, kami tiba lebih dari pukul 5 sore -waktu di mana seluruh museum dan istana ditutup. Akhirnya kami hanya bisa berfoto-foto di luarnya saja. Berikut ini adalah beberapa tempat yang bisa menjadi tujuan wisata perjalanan Anda di Phnom Penh.

  • Phnom Penh Royal Palace - adalah istana raja Phnom Penh (post-Angkor) yang terletak di pusat kota Phnom Penh. Beberapa lokasi terbuka untuk umum.
  • Cambodia National Museum - adalah museum yang berisi artifak terkait sejarah Kamboja (dari pre-Angkor hingga sekarang). Untuk masuk ke museum, para pengunjung dikenakan biaya sebesar $5.

Berhubung sudah lebih dari pukul 5, kami pun tidak bisa masuk ke sana. Apalagi kami harus melanjutkan perjalanan ke Siem Reap pada malam hari. Benar-benar waktu yang sangat pendek di Phnom Penh. Sekitar pukul 10 malam, kami melanjutkan perjalanan ke Siem Reap masih dengan menggunakan Giant Ibis.

1 Juni - Siem Reap Adventure Day-1

Kami tiba di Siem Reap pagi hari. Keluar dari pool bus Giant Ibis, kami disambut banyak sekali tuk-tuk. Kami pun memilih salah satu tuk-tuk yang mengantarkan kami ke penginapan Mantra. Kami pun beristirahat sejenak, bersih-bersih serta melihat toko cinderamata di samping penginapan. Suasana Siem Reap tampak lebih kering dibandingkan Phnom Penh.

Tidak hanya berhenti di penginapan, kami pun menyewa sepeda seharga $2.00 per sepeda seharian. Kami menjelajah daerah selatan Siem Reap, tepatnya di sekitar Old Market dan Pub Street. Di sini kami mencoba sebuah restoran yang cukup terkenal, yaitu Father Restaurant. Harga makanan cukup bervariasi. Selain itu, hampir semua toko, restoran dan pasar menerima mata uang Riel dan US Dollar. Dengan sepeda kami berputar-putar di pusat kota Siem Reap dan ditutup dengan kunjungan ke candi Prasat Einkosei.

2 Juni - Siem Reap Adventure Day-2 - Angkor!

Puncak petualangan kami ada di hari kedua di Siem Reap -bertepatan dengan Hari Raya Vesak, kami mengelilingi rute kecil Angkor dengan objek-objek sebagai berikut:

  • Angkor Wat (sunrise)
  • Angkor Thom (Bayon, Baphuon, Terrace of Elephants, Phimeanakas, Khleangs)
  • Thommanon
  • Chau Say Thevoda
  • Ta Keo
  • Ta Prohm
  • Banteay Kdei

Untuk menjelajah seluruh candi di Angkor, setiap turis (mancanegara) dikenakan biaya $20 sehari, atau $30 untuk dua-tiga hari atau $50 untuk satu minggu. Untuk berkeliling, pengunjung bisa menggunakan sepeda atau menyewa tuk-tuk. Percaya deh, satu kompleks candi sangat luas; saya sarankan para pengunjung menyewa tuk-tuk seharga $20 untuk satu rute (bisa tawar menawar).

Hmmm, satu hari tidaklah cukup untuk eksplor Angkor. Masih ada rute besar dan juga rute selatan. Tahun 2014-2015 ini banyak candi yang tengah mengalami proses rekonstruksi, saya berniat untuk kembali ke Angkor dua tiga tahun ke depan (sekaligus menagih ulang janji ke Angkor sama seorang teman saya yang juga blogger).

Matahari sudah condong ke arah barat, kami pun harus pulang dan bersiap menuju ke Phnom Penh dan dilanjutkan ke Ho Chi Minh. Sekitar pukul 10 malam, bis kami berangkat menuju Phnom Penh.

3 Juni - Back to Ho Chi Minh

Kami tiba di Phnom Penh pukul 5 pagi. Tidak banyak aktivitas yang kami lakukan di Phnom Penh, karena pukul 8 bis kami akan segera berangkat ke Ho Chi Minh.

Tiba di Ho Chi Minh, kami langsung check-in di Mai Vuong Saigon Hotel yang terletak tidak jauh dari Ben Thanh Market. Karena waktu sudah cukup sore, kami sight-seeing Ho Chi Minh sambil kulineran.

4 Juni - Bin Thay Market

Hari kedua di Ho Chi Minh kami habiskan untuk belanja (lebih tepatnya menemani para belanjawati) di Binh Thay Market. Pasar ini layaknya Tanah Abang, menjual dalam grosir atau partai besar. Kami belanja kaos, topi-penutup-mulut, dan juga kopi Vietnam. Binh Thay market terletak cukup jauh dari Ben Thanh. Kami harus satu kali naik bus umum (yang bahkan lebih nyaman dari busway) dari terminal di dekat Ben Thanh, seharga 5000 Dong per orang. Pasar Binh Thay tidak jauh dari terminal kok. Setelah puas berbelanja di Binh Thay, kami pun pulang ke Ben Thanh. Perlu diketahui bahwa beberapa orang memperingatkan para turis untuk berhati-hati di Ben Thanh karena banyak copet.

Sore harinya, kami jalan-jalan ke Ho Chi Minh National Museum. Museum ini menyimpan koleksi dan diorama perjuangan rakyat Vietnam bersatu menjadi republik hingga sekarang. Kebetulan keberadaan kami di kota ini bertepatan dengan peringatan Ho Chi Minh, sang pendiri negara (seperti Pak Soekarno kalau di Indonesia). Kami melanjutkan juga berjalan di Independence Palace (namun tidak diperkenankan masuk) dan juga Gereja Notre Dame.

  • Ho Chi Minh National Museum, museum sejarah Vietnam. Tarif masuknya VND 15000 atau USD 1.00.
  • Independence Palace, istana negara -tidak masuk, hanya berfoto di depannya saja.
  • Notre Dame Church, gereja Katolik -tidak masuk, hanya berfoto di depannya saja.
Vietnam menjadi kenangan tersendiri buat kami. Selain atmosfernya yang hangat, harganya yang terjangkau, jajanan pasar (street food)-nya enak-enak! Menyambut malam, kami pun kembali ke Pham Ngu Lao untuk kulineran.

Malam harinya, kami mencoba pijatan 'panas' (maksudnya dengan hot stone) di sebuah pusat layanan refleksi di daerah Pham Ngu Lao.

5 Juni - Last Day

Hari terakhir saya manfaatkan untuk beristirahat. Sedangkan beberapa rekan lainnya masih mau belanja lagi di Ben Thanh. Masih ada waktu jalan-jalan di siang hingga sore, seraya beristirahat kami mengulik kembali kisah perjalanan kami selama di negara tetangga. Kami makan di McDonald's untuk menghabiskan hari, karena kebetulan Ho Chi Minh diguyur hujan. Setelah dirasa cukup, kami bergegas menuju ke bandara Tan Sun Nhat untuk terbang menuju Singapore. Pesawat kami terbang kurang lebih pukul 8 malam.

6 Juni - Welcome to Indonesia

Seperti yang tampak pada hari keberangkatan, Changi dipadati para pendatang yang transit. Tampak beberapa orang tidur-tiduran seadanya, ada yang di kursi dan ada yang di lantai karpet. Kami pun harus melakukan hal yang sama, mengingat pesawat yang mengantar kami ke Indonesia baru berangkat pukul 9 pagi. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan di Changi karena ya cuma gitu-gitu aja, hehehe...

Tidak lama kami pun berangkat menuju tanah air. Bala bantuan dari Bekasi juga sudah bersiap untuk menjemput kedatangan para pelancong yang sempat tersesat di negeri orang lain. Suasana haru bercampur bahagia bangkit sesaat setelah kami bertemu dengan sanak saudara dan sahabat dari tanah air. Menurut saya, seenak-enaknya negara lain -entah kulinernya, atmosfir, kemajuan teknologi, kerapian, dan apa pun itu, tidak ada yang lebih nyaman daripada rumah sendiri.

Saya pun memisahkan diri, karena memang tidak tinggal di Bekasi. Rombongan lain melanjutkan perjalanan pulang ke Bekasi.

Dengan demikian, berakhir kisah Yacob Ivan dan teman-teman berkelana di Asia Tenggara. Sampai jumpa di perjalanan dan artikel kecil-kecil selanjutnya! OKEH!

Tags:

4 thoughts on “Sembilan Hari Keliling Asia Tenggara

  1. Hahahahaha.. akhirnya selesai juga review singkat seluruh perjalanan. Ditunggu detail per tempat yaa.

    Btw. Sedikit koreksi dr aku. Di judul kamu tulis 9 hari. Di body tulisan masih ada tulisan 8 hari. Hehe. Konsistensi aja sih hehehe.

    Dan 1 hal lagi. Yap. 2 atau 3 tahun lagi aku aka melunasi janji untuk ikut kesana. Aakkk envy dengan kalian yang udah duluan kesana.

    But first ayo jalan tgl 26 Juni 2015. Hihi

    Mareee nabung-nabung..

    • Sudah dikoreksi. Tadinya memang aku tulis 8 hari, gegara hari pertama gak lama. Tapi akhirnya diganti aja deh biar 9 hari 🙂 eh di bodi teks nya kelupaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *