0

Mengintip Tiga Stasiun di Jakarta yang Telah Ditinggalkan

Matahari sudah cukup terik menerangi Jakarta siang ini (1 Mei 2015). Bersama dengan seorang dosen dari salah satu universitas swasta di Jakarta, saya bersiap-siap untuk berangkat menuju tiga buah stasiun di Jakarta yang kini telah ditinggalkan. Tak lama kemudian, kami berangkat melewati kerumunan demonstran menuju ke sebuah kawasan di utara ibukota.

Stasiun Ancol

Siapa yang tidak kenal Ancol, sebuah kawasan di Jakarta Utara yang dikenal karena Dunia Fantasi, jembatan dan 'si Manis'-nya? Sebelum non-aktif, stasiun ini pernah dilalui jalur Commuter Line yang tentu mempermudah masyarakat untuk berkunjung ke Ancol. Kini stasiun ini tinggal kenangan. Beberapa orang tampak menggunakan platform untuk beristirahat atau sekedar berteduh sebelum melanjutkan aktivitas mereka sehari-hari. Tampak loket, pintu masuk dan pintu keluar ditutup secara resmi. Sedangkan di sekitar rel malah digunakan untuk memarkirkan kendaraan.

Stasiun Ancol

Pintu Masuk Stasiun

Menunggu

Stasiun Tanjung Priok

Masih di kawasan utara Jakarta, kami pun melanjutkan perjalanan menelusuri rel kereta api ke arah timur. Perjalanan kami berhenti di terminal Tanjung Priok, di mana terdapat bangunan cagar budaya Stasiun Tanjung Priok. Sekilas, bangunan ini tampak seperti stasiun yang tengah aktif. Namun ketika masuk ke dalam, kami hanya menemukan meja sekuriti. Kami pun mencoba bertanya sekilas tentang stasiun ini.

Stasiun Tanjung Priok

Bersamaan dengan non aktifnya terhadap layanan penumpang, jalur utara dari Tanjung Priok sampai Rajawali beralih fungsi menjadi layanan kargo dan kereta barang. Semua loket juga telah tutup, namun masih tampak ada sebuah komputer untuk cetak tiket. Saya pun mencetak tiket di sana.

Tak lama kemudian, seorang masinis tampak melewati kami. Saya pun mencoba memulai pembicaraan mengenai kereta api. Sang Masinis membawa kami untuk menemui kepala stasiun. Saya pun mengutarakan niat kami untuk berkunjung ke stasiun. Sebenarnya kami tidak diperkenankan mengambil gambar di stasiun karena harus memiliki ijin untuk berkunjung. Karenanya, kami tidak bisa dengan bebas mengambil gambar di sini dan beranjak dari stasiun Tanjung Priok.

Peron Stasiun Tanjung Priok

Menurut sang Masinis, stasiun ini mungkin akan diaktifkan kembali untuk jalur Commuter Line. Namun realisasi dari rencana tersebut masih belum jelas. Akhirnya kami meninggalkan stasiun ini menuju ke tujuan terakhir.

Mesin Cetak Tiket

Stasiun Mampang

Dari utara Jakarta kami menuju ke Jakarta Pusat, tempat di mana terdapat sebuah stasiun yang sepertinya tidak aktif sejak lama sekali. Stasiun terakhir ini cukup unik, karena diberi nama "Mampang", yang pada kenyataannya sangat jauh dari Mampang. Lokasi platform ini ada di Jalan Latuharhari, antara Stasiun Sudirman dan Stasiun Manggarai. Biasanya, Commuter Line yang antri masuk ke Manggarai berhenti di platform ini.

Melihat kondisi stasiun ini, tampaknya memang sudah lama sekali. Papan nama stasiun pun tidak seperti stasiun lain yang juga tidak aktif. Malahan kami sempat berasumsi bahwa daerah Kuningan ini dulunya termasuk ke dalam wilayah Mampang. Tulisan "Mampang" tampak ditumpuki coretan siswa-siswa SMA. Bangunan stasiun masih ada, namun digunakan oleh orang untuk tempat tinggal semi permanen.

Walaupun hanya sebentar di stasiun ini, setidaknya ada tiga KRL melintas. Ada kemungkinan stasiun ini lama tidak aktif karena efisiensi, mengingat lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Manggarai.

Stasiun Mampang

KRL Melintasi Stasiun Mampang

Usai dari Stasiun Mampang, kami pun beranjak pulang karena ternyata langit sudah menunjukkan tanda-tanda mendung. Masih ada beberapa stasiun lainnya yang tidak aktif, namun kami tidak merencanakannya hari ini. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *