0

The Pearl of Tangerang

Inikah negeri bambu Republik Rakyat Tiongkok? Bukan, saya berada di sebuah kawasan China Town di Kota Tangerang, tepatnya di Cina Benteng yang juga dikenal sebagai The Pearl of Tangerang. Kunjungan ke 'negeri' ini ditemani oleh rekan desainer yang cukup sering juga nganter orang ke Cina Benteng.

Cina Benteng merupakan kawasan yang sangat unik, yang boleh dibilang satu-satunya saksi sejarah yang masih bisa kita nikmati hingga sekarang (tahun 2015). Mengapa demikian? Bagi sebagian orang, tinggal di sebuah kota terasa ada yang kurang apabila kota tersebut tidak memiliki sejarah (amnesia sejarah). Begitulah yang nyaris dirasakan kota-kota di sekitar Jakarta, di mana situs-situs bersejarah terdesak menjadi kawasan pusat perbelanjaan, properti dan hunian yang semakin padat.

Untungnya Tangerang masih memiliki kawasan Cina Benteng, yang ternyata dikelola oleh seorang pemerhati sejarah bernama Mister Udayasakbya Halim. Beliau adalah pencetus restorasi sebuah bangunan tua berasitektur tradisional Tionghoa, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-17. Bangunan tua tersebut kini berubah fungsi menjadi sebuah museum. Selain museum, terdapat tiga buah klenteng kuno yang merupakan satu rangkaian dengan sejarah Cina Benteng. Selain berupa bangunan, tradisi dayung perahu Pecun juga selalu dirayakan setiap tahun baru Imlek. Paduan sejarah dan budaya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Cina Benteng, sehingga layak disebut sebagai The Pearl of Tangerang.

Berikut ini adalah tempat-tempat yang saya kunjungi di Cina Benteng (tidak saya urutkan berdasarkan kunjungan).

Klenteng Boen Tek Bio

Klenteng Boen Tek Bio, dibangun pada tahun 1684, merupakan klenteng tertua di Tangerang (sekarang Pasar Lama). Berdirinya klenteng ini tidak jauh dari sejarah masuknya orang-orang Tionghoa pada abad ke-15. Ketika rombongan pedagang dari Tiongkok datang dan ingin masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa, tak disangka kapal yang dinaiki kehabisan bahan bakar sehingga mereka harus berlabuh di sebuah teluk yang kini disebut Teluk Naga, yang merupakan muara Sungai Cisadane.

Klenteng Bun Tek Bio
Tampak depan Klenteng Bun Tek Bio

Kehadiran mereka disambut oleh orang-orang Pajajaran, yang tidak lama setelahnya diserang oleh Kesultanan Banten. Memasuki babak sejarah kolonialisme di Indonesia, sepanjang sungai dibangun benteng-benteng oleh pemerintah kolonial Belanda guna melindungi Pelabuhan Sunda Kelapa dari serangan Kesultanan Banten. Oleh karenanya, etnis peranakan Tionghoa di daerah sekitar Teluk Naga ini diberi julukan Cina Benteng. Sayangnya, dinding benteng itu tidak satu pun yang tersisa. Di atas pusat reruntuhan benteng dibangun Masjid Agung Tangerang.

Sebagai pusat perdagangan, lokasi ini terus berkembang. Klenteng Boen Tek Bio dibangun untuk menjadi tempat ibadah orang-orang peranakan. Hingga saat ini, saya masih bisa menikmati suasana China Town dengan aroma pasar tradisional di sekitar klenteng Boen Tek Bio. Saya menyempatkan diri untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagian besar bangunan klenteng masih terjaga sesuai bentuk aslinya. Penambahan-penambahan hanya pada bagian depan dan samping untuk perluasan tempat ibadat dan wihara. Di klenteng ini, terdapat lonceng kuno yang juga masih asli sejak abad ke-17.

Klenteng Bun Tek Bio
Interior klenteng yang kaya akan ornamen
Pintu Kesusilaan
Pintu Gerbang Kesusilaan, yang tampak seperti di film-film kungfu

Museum Cina Benteng Heritage

Usai berkunjung ke klenteng, kami pun berjalan beberapa langkah ke arah belakang klenteng untuk masuk ke sebuah museum yang menyimpan koleksi Cina Benteng. Saya cukup merogoh kocek Rp20.000,00 untuk bisa masuk dan menikmati keunikan museum ini. Saya pun menunggu giliran untuk diantar oleh seorang pemandu untuk menjelaskan koleksi-koleksi yang tersimpan di museum ini. Ups, pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil gambar (kecuali jika bertemu Mr. Udaya).

Museum Benteng Heritage
Pintu gerbang masuk museum Cina Benteng

Bangunan museum terdiri dari dua lantai. Loket, toko oleh-oleh dan ruang makan ada di lantai pertama. Ruang makan hanya digunakan untuk perayaan atau acara tertentu saja. Sedangkan koleksi museum ada di lantai dua. Berhubung saya tidak diperkenankan memotret, maka saya cukup bercerita menurut pandangan saya :).

  1. Keunikan pertama yang saya lihat di museum ini adalah arsitektur rumah museum ini. Sepintas, saya merasa berada di sebuah restoran ala Tionghoa dengan dua lantai. Lantai satu digunakan untuk makan, sedangkan lantai dua digunakan untuk hal plus-plus lainnya seperti judi dan perdagangan opium. Di bagian pusat rumah, tampak ada empat pilar. Bagian atasnya terdapat relief porselin yang menceritakan kisah Sam Kok secara singkat, di mana Panglima Guan Yu menyelamatkan permaisuri Liu Bei melewati enam kota. Relief ini sangat indah!
  2. Keunikan kedua, adalah barang-barang koleksi museum mulai dari arca dewa-dewa, alat pertanian, pakaian pernikahan, kostum dan sepatu kecil para wanita Tionghoa, alat musik, hingga timbangan opium jaman dulu.
  3. Keunikan ketiga, adalah kecap khas Cina Benteng yang semuanya nomor satu. Kecap merupakan warisan kuliner dari Tiongkok, yang berakulturasi dengan lidah Nusantara menjadi kecap manis. Pabrik kecap ini masih bisa dijumpai di Cina Benteng, dengan salah dua produk unggulnya dipamerkan dan dijual di museum ini.
Liong
Liong dengan corak batik pertama di Indonesia, salah satu koleksi yang boleh dipotret di museum

Beruntung, saya berkesempatan bertemu dengan Mr. Udayasakbya Halim. Beliau adalah tokoh masyarakat Tangerang yang mencetuskan renovasi bangunan museum. Beliau adalah orang yang sangat peduli dengan sejarah dan warisan budaya. Sempat mendengarkan beliau berbicara, bahwa generasi muda tidak boleh lupa terhadap sejarah. Beliau tidak setiap saat berada di Indonesia, hanya pada acara-acara tertentu saja. Oleh karenanya saya merasa sangat beruntung bisa bertemu bahkan berfoto bersama :).

Berfoto bersama Mr. Udayasakbya Halim
Berfoto bersama Mr. Udayasakbya Halim.

Museum Roemboer

Tidak jauh dari lokasi Museum Benteng Heritage, terdapat bangunan lama yang juga oleh Mr. Udayasakbya disulap menjadi museum kuliner. Museum ini dinamakan Museum Roemboer atau Rumah Burung. Ketika saya berkunjung, museum ini ternyata belum dibuka untuk umum walaupun sudah diresmikan beberapa bulan sebelumnya.

Museum Roemboer
Tampak depan Museum Roemboer

Klenteng Boen San Bio

Klenteng Boen San Bio tidak terletak satu kompleks dengan Klenteng Boen Tek Bio. Meskipun demikian klenteng ini termasuk dari tiga klenteng bersejarah di Tangerang. Sepintas, bangunan klenteng sudah meninggalkan bentuk aslinya. Perluasan dan renovasi klenteng dilakukan tanpa memelihara bentuk aslinya.

Klenteng Bun San Bio
Gerbang Klenteng Boen San Bio

Keindahan klenteng ini tampak dari puluhan lampion yang digantung di langit-langit klenteng. Selain itu, di bagian belakang terdapat taman klenteng. Di taman tersebut, tampak ada air suci, Dhammasala (kuil Dewi Kwan Im), tempat sembayang Pecun (perahu naga), dan petilasan atau keramat RD Surya Kencana.

Klenteng Bun San Bio
Tampak depan klenteng Boen San Bio
Lampion
Ratusan lampion digantung di langit-langit klenteng
Keramat Mbah RD Surya Kentjana
Keramat RD Surya Kencana
Darmasala
Dhammasala di bagian belakang klenteng

Epilog

Sebenarnya, masih ada satu klenteng lagi yaitu Klenteng Boen Hay Bio. Akan tetapi klenteng ini tidak saya kunjungi karena lokasinya cukup jauh dari dua klenteng di Cina Benteng. Di tengah-tengah blusukan, saya pun beristirahat di sebuah resto yang menyajikan nasi campur, masakan peranakan Tionghoa di Indonesia. Ups, tidak semua orang 'boleh' makan nasi campur 🙁 karena mengandung babi. Setelah selesai berkeliling museum dan klenteng, saya pun membeli kecap asli Cina Benteng sebagai oleh-oleh untuk teman-teman kantor.

Untuk menuju Pasar Lama tidaklah sulit, karena lokasinya berdekatan dengan Stasiun Tangerang. Dengan menggunakan Commuter Line dari Jakarta, Anda bisa naik ke jurusan Tangerang dengan transit di Stasiun Duri. Setibanya di Stasiun Tangerang, Anda dapat menanyakan detil lokasi Cina Benteng karena memang lokasinya cukup blusuk-blusuk :).

Tertarik menuju kemari?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *