0

Inilah Situs-situs Bersejarah di Banyumas yang Jarang Orang Ketahui (1)

Dua hari di Kabupaten Banyumas tidaklah cukup untuk menelusuri tempat-tempat unik, mulai dari Purwokerto -pemberhentian awal, hingga Kecamatan Baturraden. Meskipun demikian, Kabupaten Banyumas menyumbangkan suatu pengalaman yang lengkap -mulai dari sejarah, kuliner, hingga nuansa alam yang tiada duanya. Perjalanan saya tidaklah sendiri namun ditemani oleh penerjemah film nusantara yang legendaris, Pein Akatsuki. Yuk, ikuti perjalanan kami.

Stasiun Purwokerto

Perjumpaan awal kami adalah dari Stasiun Purwokerto. Saya berangkat dari arah barat, sedangkan Pein berangkat dari arah timur. Lima jam perjalanan memang melelahkan, tapi tentu itu menjadi harga yang harus kami bayar untuk mendapatkan kepuasan batin serta pengalaman yang mengesankan di Kabupaten Banyumas.

Supaya bisa berkeliling di banyak tempat, kami menyewa sebuah motor di Arbi Rental. Dengan bermodalkan informasi dari Visit Banyumas dan Aroeng Binang, kami pun mulai berpetualang keesokan harinya. Sebelum beristirahat di daerah Baturraden, kami pun menyempatkan mampir ke Soto Lama Jalan Bank.

Hari Pertama

Tujuan hari pertama, kami menjelajahi Kabupaten Banyumas bagian timur dan selatan. Peta itinerary perjalanan sudah Pein siapkan untuk memandu perjalanan ke arah timur. Berikut ini adalah lokasi-lokasi yang kami kunjungi.

1. Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto

Klenteng ini di bangun oleh seseorang pedagang dari Tiongkok yang bernama Oey Yoe Wan pada tahun 1879. Dahulu lokasi ini merupakan pusat pemerintahan, di mana alun-alunnya kini menjadi Pasar Wage. Klenteng ini pernah mengalami pemugaran pada tahun 1987.

2. Klenteng Hok Tek Bio Sokaraja

Dari klenteng Hok Tek Bio Purwokerto, kami menuju ke klenteng bernama sama namun terletak di Kecamatan Sokaraja. Sebelum tiba di klenteng, kami mencicipi Soto Kecik Sokaraja yang terletak tidak jauh dari klenteng. Klenteng ini menempati bangunan yang dulunya adalah sekolah di persimpangan Sungai Kalibagor. Klenteng ini lebih tua dari yang di Purwokerto, dibangun pada tahun 1826. Lokasi dari klenteng ini cukup strategis, karena berada di jalur kereta Purwokerto-Banjarnegara-Temanggung, dan Purwokerto-Jogyakarta.

3. Stasiun Sokaraja

Seusai dari klenteng, kami mengikuti jalan utama Sokaraja ke arah Banyumas. Tidak jauh dari persimpangan Sungai Kalibagor, kami belok kiri di sebuah perempatan untuk menemukan Stasiun Sokaraja. Dahulu, stasiun ini digunakan untuk jalur Purwokerto-Banjarnegara-Temanggung. Kini bangunan stasiun sudah tidak digunakan lagi, malah sudah terhimpit dengan bangunan rumah-rumah warga. Sempat ada kabar bahwa jalur ini akan dihidupkan kembali sampai Wonosobo, namun apakah bisa direalisasikan atau hanya sebuah wacana saja.

4. Gedung Pabrik Gula Kalibagor

Dalam perjalanan menuju Banyumas, kami melewati bangunan bekas Pabrik Gula Kalibagor. Sayang sekali pabrik ini sudah lama tidak digunakan dan hanya dibiarkan terbengkalai begitu saja. Malah tampaknya benda cagar budaya ini akan dihancurkan.

5. Gua Maria Kaliori

Sebelum masuk Kabupaten Banyumas, kami menyempatkan diri untuk berziarah di Gua Maria Kaliori. Gua Maria ini dibangun pada tahun 1989 (mulai dari 15 Agustus hingga diresmikan tanggal 8 Desember). Gua Maria ini diresmikan oleh Mgr. PS Hardjasoemarta. Patung Bunda Maria juga diberkati oleh Bapa Paus Yohanes Paulus II. Selain Gua Maria, terdapat juga Taman Rosario Hidup, Kapel Ratu Surga dan Jalan Salib. Tulisan tentang Gua Maria Kaliori akan dilanjutkan di posting terpisah.

6. Makam Pak Kasur

Bagi generasi 90-an, siapa yang tidak kenal Pak Kasur. Sang Maestro pencipta lagu anak-anak ini sebenarnya memiliki nama asli Soerjono. Beliau lahir di Purbalingga tanggal 26 Juli 1912 dan wafat pada tahun 1992. Pak Kasur dimakamkan tidak jauh dari lokasi Gua Maria Kaliori.

7. Museum Wayang Banyumas

Usai blusukan di sekitar Kaliori, saya menuju ke jantung kabupaten Banyumas tempo dulu, yaitu di Kecamatan Banyumas. Di jantung kecamatan, saya bisa melihat alun-alun dengan dua buah pohon besar. Menelusuri jalan ke utara, kita bisa melihat pendopo duplikat si Panji. Tidak jauh dari pendopo, tampak di sebelah timur ada sebuah museum yang menyimpan koleksi wayang; yaitu Museum Wayang Banyumas. Sayang sekali pada saat saya berkunjung, museum ini telah tutup.

8. Masjid Sulaiman

Tidak jauh dari alun-alun Kecamatan Banyumas, di sisi sebelah barat ada sebuah masjid kuno yang hingga kini masih aktif digunakan. Masjid ini dibangun oleh Bapak Nur Daiman, sesaat setelah Pendopo si Panji dibangun. Bapak Nur Daiman adalah salah seorang tokoh Islam yang berpengaruh pada masanya. Pada mulanya, nama masjid ini mengambil nama pembangunnya. Namun setelah ibukota kabupaten berpindah ke Purwokerto, nama masjid ini diganti menjadi Masjid Nur Sulaiman. Dari segi arsitektur, keunikan masjid ini adalah memiliki atap tiga tingkat yang menjadi ciri khas masjid-masjid kuno lainnya.

9. Situs Watu Keser

Selain dikenal karena kebudayaan bercorak Islam, Banyumas juga masih memiliki peninggalan bercorak pra sejarah, yang mungkin masih digunakan ketika Nusantara memasuki masa Hindu-Buddha. Salah satu punden yang saya kunjungi adalah Watu Keser. Punden kecil tersebut terletak di belakang bengkel truk yang tidak begitu jauh dari kecamatan Banyumas. Tampaknya, punden tersebut kurang begitu dirawat.

10. Situs Pasir Luhur

Situs terakhir yang saya kunjungi di hari pertama adalah sebuah situs yang memiliki peninggalan era Megalitikum dan juga kemungkinan dilanjutkan hingga era Hindu-Buddha. Oleh masyarakat sekitar, situs ini dikaitkan dengan kisah Islamisasi Kerajaan Demak. Dikisahkan ada seorang patih bernama Patih Carangandul. Banyak orang-orang Majapahit yang dipaksa memeluk Islam, yang apabila menolak maka akan dibunuh. Karena memiliki aji Pancasona, sang Patih yang tetap teguh pada pendiriannya tidak mati saat dipenggal; malah akan tersambung kembali. Hingga akhirnya, seluruh anggota tubuh segera dipisahkan sebelum kembali ke wujud asalnya. Konon, kepala sang Patih berubah menjadi batu yang kini berada di situs Pasir Luhur.

Masih ada banyak tempat unik lainnya yang bisa kita kunjungi, terutama bagi para penggiat dan penggemar budaya Nusantara. Di Situs Pasir Luhur, Pein dan saya mengakhir hari pertama petualangan di Kabupaten Banyumas. Ke mana tujuan kami selanjutnya? Ikuti perjalanan kami di Hari Kedua.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *