0

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Teduh dan tenang di lereng Gunung Salak, terdengar lantunan mantra yang diiringi merdu kicauan burung. Mata terpejam sambil menenangkan hati dan pikiran, kemudian diakhiri percikan dan tuangan air. Seraya mengucapkan syukur kepada Sang Hyang Widi, kami membaringkan hati kami di Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, sebuah pura terbesar di Jawa Barat. Secara administratif, pura ini terletak di Desa Warung Loa, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sekilas Tentang Pura

Bermula dari sebuah pewahyuan yang diberikan kepada seseorang, "Mengapa tempat tinggalku ada di Bali, sedangkan tidak kujumpai di tempat asalku?" Begitulah kira-kira wangsit yang diyakini berasal dari suara Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, raja termasyur dari Kerajaan Pajajaran. Ketika diikuti, suara tersebut menuntun para brahman ke sebuah batu besar di lereng Gunung Salak. Di depan batu besar tersebut, dibangunlah sebuah candi modern dengan dua patung macan. Konon, tempat tersebut merupakan singgasana Prabu Siliwangi.

Gapura Kori Agung sebelum masuk ke Madya Mandala.

Parahyangan Agung Jagatkartta dibangun dengan konsep Trimandala, yakni dibagi menjadi tiga tingkatan kesucian, yaitu:

  1. Nista Mandala, yaitu bagian terluar dari pura. Terdapat tempat untuk beristirahat dan juga ganti baju. Gapura Bentar membatasi bagian Nista Mandala dengan Madya Mandala. Pada bagian ini, terdapat dua jalan yang dapat dilalui pengunjung. Apabila hendak sembahyang, para umat bisa menaiki tangga utama melintasi Gapura Bentar. Sedangkan wisatawan biasa dapat melewati jalan setapak di sebelah kanan gapura.
  2. Madya Mandala, yaitu bagian tengah dari pura. Di bagian ini, saya menemukan sebuah Arca Ganesha, satu kompleks altar dan sebuah pendopo. Di kedua tempat ini, seluruh umat Hindu dapat melakukan sembahyang. Wisatawan biasa diberi ruangan untuk melihat-lihat bagian tengah pura ini di sisi kanan. Gapura Kori Agung membatasi Madya Mandala dengan Utama Mandala. Gapura ini terdiri dari tiga pintu, yaitu gerbang Ngeranjing (masuk), gerbang tengah (yang hanya dibuka pada saat-saat tertentu), dan gerbang Medal (keluar).
  3. Utama Mandala, yaitu bagian utama atau puncak dari pura. Lapisan inilah yang merupakan bagian paling sakral. Di sana terdapat Candi Meru, Candi Prabu Siliwangi, empat buah bale (pendopo) dan sebuah tempat penyimpanan. Bale terbesar terletak di tengah menghadap Meru, digunakan oleh pedanda untuk memimpin suatu perayaan besar. Ketiga bale lainnya memiliki fungsi yang berbeda, yakni untuk membuat kerajinan, membuat hiasan untuk pura, dan memainkan alat musik ritual.
Madya Mandala.

Turut Bermeditasi

Kunjungan perdana ke pura ini tentu tidak sendirian, saya ditemani oleh sahabat dan beberapa teman baru. Di sana kami dijamu oleh Om Sonny, salah seorang yang bertugas di beberapa pura di sekitar Jabodetabek. Beliau juga menceritakan bahwa pura ini bukan hanya digunakan sebagai tempat pemujaan umat Hindu, melainkan pernah ada orang Katolik dan Muslim yang juga terkesan akan aroma spiritual lereng Gunung Salak ini.

Yang membuat terkesan adalah saya bisa bermeditasi di ruang terbuka, dengan sambutan kicauan burung-burung dan desiran angin. Kebetulan sekali cuaca hari itu mendukung kami untuk bermeditasi, padahal tiga hari berturut-turut hujan deras dengan durasi yang sangat lama.

Berikut ini beberapa foto yang saya peroleh dari Parahyangan Agung Jagatkartta.

Mandala
Candi Prabu Siliwangi

Menuju ke Pura

Rute menuju ke Parahyangan Agung Jagatkartta tidaklah sulit. Pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Dari Jakarta, saya dan rekan-rekan memilih menggunakan kendaraan umum. Berikut ini adalah itinerary perjalanan kami menuju pura.

  • Saya berangkat dari Stasiun Sudirman menggunakan Commuter Line menuju Bogor. Tarif Commuter Line bisa berbeda-beda tergantung jumlah stasiun yang dilewati. Saya sendiri mengeluarkan biaya sebesar Rp4.000,00.
  • Karena tidak begitu jauh dari Stasiun Bogor, kami jalan kaki ke Bogor Trade Mall. Sebagai alternatif, pengunjung bisa menggunakan angkot. Kalau tidak salah tarifnya Rp3.000,00.
  • Dari Bogor Trade Mall, kami naik angkot arah Ciapus yang berwarna hijau toska (hijau-biru) dan diturunkan tepat di pertigaan menuju lokasi pura. Tarif angkot Bogor Trade Mall - Ciapus sekitar Rp7.000,00.
  • Dari pertigaan, kami berjalan kaki sejauh 1 km untuk mencapai pura. Sebagai alternatif, pengunjung bisa menyewa tukang ojek dengan biaya Rp10.000,00 sampai pura.
  • Untuk kembali, saya menggunakan rute sebaliknya.
Arca Ganeça di bagian Nista Mandala (depan).

Seusai bermeditasi, kami pun makan di depan lokasi pura. Barulah kami akhirnya pulang ke rumah kami masing-masing. Demikianlah perjalanan kami (24 Januari 2015), semoga harapan kami di tahun 2015 ini tercapai. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *