0

Lingga-Yoni di Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan, satu dari tiga keraton besar di Cirebon memang memiliki pesona tersendiri. Melirik perjalanan saya di Kota Cirebon beberapa waktu yang lalu, saya teringat akan dua buah batu yang diletakkan secara khusus di bagian terluar keraton. Berangkat dari peninggalan tersebut, tentu saya penasaran: bagaimana pengaruh agama Hindu di Cirebon, serta adakah peninggalan Hindu lainnya di sekitarnya?

Kasepuhan: Satu Keraton dengan Beragam Agama

Pagi-pagi benar, saya dan rombongan berangkat menjelajahi keraton-keraton yang ada di Cirebon. Tujuan pertama kami adalah Keraton Kasepuhan, salah satu petilasan jejak kerajaan Islam di Jawa Barat. Bagi para peziarah, tentu keraton ini menjadi objek wisata religi yang menarik. Pada Hari Raya Maulid Nabi Muhammad, beberapa bagian keraton yang ditutup untuk umum boleh diakses hanya pada hari itu.

Masuk ke kompleks keraton, saya disambut dengan bagian pagar yang menyerupai Gapura Candi Bentar ala Hindu. Selain menemukan pendopo, saya juga menemukan dua buah arca: lingga dan yoni di salah satu sudut ruangan. Keberadaan dua arca ini tentu membuktikan bahwa peninggalan Hindu (masa sebelum dominasi Islam) juga ada di sekitar sini. Dari sinilah, saya mulai penasaran dengan peninggalan Hindu lainnya di Cirebon.

Semakin ke dalam, pengunjung akan tiba di halaman utama keraton. Jika diperhatikan, dinding keraton ditempeli keramik, yang mungkin merupakan hasil perdagangan dengan Cina dan Eropa. Beberapa keramik tersebut digambari kisah-kisah yang ada di Alkitab maupun gambar-gambar gerejawi lainnya.

Kereta Singa Barong dan Lukisan Prabu Siliwangi

Selain menemukan beberapa objek dengan corak agama Hindu, Islam, dan Nasrani, bukti kuat multikultural lainnya tampak pada sebuah kereta kencana "Singa Barong" yang dipamerkan di dalam museum. Pada bagian depan, tampak ada hewan dewata yakni campuran antara Gajah (Hindu), Garuda (Hindu), dan Naga (Buddha). Ada yang menyebutkan kalau Garuda bersayap juga melambangkan Islam.

Dari artefak tersebut, tampak bahwa adanya suatu simbol yang ditanamkan dalam benda-benda peninggalan keraton. Melacak sejarah Keraton Kasepuhan yang dibangun sekitar tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana atau Walang Sungsang; putra dari Prabu Siliwangi -raja Pajajaran. Lukisan Prabu Siliwangi dapat dilihat pula di dalam museum, dilukis oleh seorang pelukis dari Garut ketika mendapatkan mimpi bertemu dengan sang Prabu.

Tautan yang Hilang

Pada silsilah raja yang dipasang di museum, Kerajaan Pajajaran menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Cirebon. Terlepas dari kontroversi agama Kerajaan Pajajaran (Hindu atau Sunda Wiwitan), peninggalan-peninggalan yang tampak di Keraton Kasepuhan ini menunjukkan bahwa pengaruh sebelum Islam pun ada, tetapi tidak dapat diceritakan secara utuh mengingat bukti-bukti temuan tradisi Hindu (atau Sunda Wiwitan) tidak banyak.

Bersama dengan seorang teman dari Cirebon, saya ingin -entah berapa kali- berkeliling mengungkap titik-titik bersejarah di kota udang ini :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *